Seorang wartawan Harian Republika dianiaya

Seorang wartawan Harian Republika dianiaya orang tak dikenal. Peristiwa nahas yang menimpa Amri Amrullah itu terjadi kemarin sore, Sabtu, 23 Juli 2011, di perempatan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Menurut pengakuan Amri, saat itu dirinya tengah mengendarai sepeda motor sehabis pulang liputan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, menuju kantornya di Warung Buncit.

Namun, ketika dia dalam posisi berhenti di perempatan lampu merah Duren Tiga, ada seorang lelaki berambut cepak, berkulit bersih, dan berperawakan tinggi besar menegurnya. Kamu nyenggol mobil saya. Lihat tuh bempernya," kata Amri menirukan pria itu kepada media, Minggu, 24 Juli 2011. Lalu, pria yang mengaku bernama Yudo itu pun meminta ganti rugi.

Mobil yang dikendarai Yudo adalah jenis Avanza berwarna merah dilengkapi tanda pangkat “bengkok tiga” bergelantungan di spion tengah. Merasa tidak bersalah, Amri menolak tuduhan itu. Mendengar itu, dengan serta merta Yudo meminta SIM dan STNK Amri.

"Karena dia tidak berseragam, saya menolak memberikannya," tambah Amri. "Kalaupun saya salah, letaknya di mana? Tiba-tiba, pukulan keras menghantam bagian belakang kepala Amri. "Kamu nantang saya," sahut Yudo.

"Anda ini siapa sih?" tanya Amri. Pertanyaan itu langsung dijawab bogem mentah ke mata dan hidung Amri.

"Tidak bisa seperti ini," Amri berteriak.

Namun, lagi-lagi bogem mentah melayang ke mukanya. Akibat pukulan itu, hidung Amri patah, pelipis mata kiri bawah sobek, serta kepala bagian belakang bengkak.

Tak terima dianiaya, dengan kondisi hidung berdarah, Amri mengajak pria tadi untuk menyelesaikan persoalan tersebut di Polsek Pancoran. Dia pun meminta Yudo menyerahkan kunci motornya. Saat itu, Amri sempat mendengar pembicaraan telepon Yudo.

"Ini Yudo," Amri menirukan perkataan lelaki itu, seolah tengah melapor ke atasannya.

Yudo semula setuju untuk datang ke kantor polisi. Namun, Amri yang tiba lebih dulu di Polsek Pancoran tidak menjumpai lelaki berambut cepak itu di sana.

Amri pun membuat laporan. Dia sudah diperiksa polisi dan menjalani visum. Meski begitu, wartawan rubrik otomotif itu mengaku pasrah karena dia lupa mencatat pelat nomor mobil yang dikendarai Yudo. "Awalnya saya hafal, tapi karena kepala pusing, saya kehilangan konsentrasi dan ingatan saya buyar," ujarnya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Pancoran, Iptu Dalbi Rusda, mengatakanpetugas sudah diterjunkan ke lokasi pemukulan untuk menyelidiki kasus ini. "Kami sudah kirim orang ke TKP, masih penyelidikan," kata Dalbi. Demikian informasi dari Blog Berita yang berjudul Seorang wartawan Harian Republika dianiaya.

0 Response to "Seorang wartawan Harian Republika dianiaya"